SOLDES
Jusqu'à -70% sur une sélection d'articles*
Charles Taylor dan Argumen Transendental: Kritik atas Rasionalitas Filsafat Modern
Par :Formats :
Disponible dans votre compte client Decitre ou Furet du Nord dès validation de votre commande. Le format ePub est :
- Compatible avec une lecture sur My Vivlio (smartphone, tablette, ordinateur)
- Compatible avec une lecture sur liseuses Vivlio
- Pour les liseuses autres que Vivlio, vous devez utiliser le logiciel Adobe Digital Edition. Non compatible avec la lecture sur les liseuses Kindle, Remarkable et Sony
, qui est-ce ?Notre partenaire de plateforme de lecture numérique où vous retrouverez l'ensemble de vos ebooks gratuitement
Pour en savoir plus sur nos ebooks, consultez notre aide en ligne ici
- FormatePub
- ISBN8232696108
- EAN9798232696108
- Date de parution22/10/2025
- Protection num.pas de protection
- Infos supplémentairesepub
- ÉditeurDraft2Digital
Résumé
Menimbang Validitas Argumen Transendental merupakan kajian filosofis mendalam atas karya Charles Taylor dalam Philosophical Arguments (1995), khususnya bab "The Validity of Transcendental Arguments." Dalam monograf ini, Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad menelusuri secara sistematis bagaimana Taylor menimbang ulang tradisi Kantian tentang argumen transendental-sebuah metode yang menelusuri syarat-syarat yang memungkinkan pengalaman manusia.
Buku ini menghadirkan jembatan antara rasionalitas Kant dan fenomenologi tubuh Merleau-Ponty, menunjukkan bagaimana tubuh, kesadaran, dan dunia saling berkelindan dalam pengalaman manusia. Melalui gaya penulisan akademis yang jernih, penulis menyoroti kekuatan argumen transendental yang berakar pada premis tak terbantahkan, sekaligus mengulas kerentanannya ketika bergerak menuju kesimpulan yang bersifat apodiktis.
Dengan menggunakan pendekatan tekstual-filosofis dan argumentatif, buku ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hakikat berpikir, batas pengetahuan, serta syarat-syarat pengalaman yang tak tergantikan (indispensable conditions). Charles Taylor dibaca bukan sekadar sebagai penerus Kant, tetapi sebagai pemikir yang berani memperbarui tradisi transendental dalam horizon filsafat kontemporer. Ditulis dengan disiplin akademik tinggi dan bahasa yang terukur, buku ini sangat relevan bagi mahasiswa filsafat, dosen, peneliti, dan siapa pun yang ingin memahami cara kerja argumen transendental dalam dunia berpikir modern.
Ia tidak hanya membuka ruang bagi refleksi teoretis, tetapi juga menjadi kontribusi penting bagi khazanah filsafat Indonesia yang sedang membangun dialog global.
Buku ini menghadirkan jembatan antara rasionalitas Kant dan fenomenologi tubuh Merleau-Ponty, menunjukkan bagaimana tubuh, kesadaran, dan dunia saling berkelindan dalam pengalaman manusia. Melalui gaya penulisan akademis yang jernih, penulis menyoroti kekuatan argumen transendental yang berakar pada premis tak terbantahkan, sekaligus mengulas kerentanannya ketika bergerak menuju kesimpulan yang bersifat apodiktis.
Dengan menggunakan pendekatan tekstual-filosofis dan argumentatif, buku ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hakikat berpikir, batas pengetahuan, serta syarat-syarat pengalaman yang tak tergantikan (indispensable conditions). Charles Taylor dibaca bukan sekadar sebagai penerus Kant, tetapi sebagai pemikir yang berani memperbarui tradisi transendental dalam horizon filsafat kontemporer. Ditulis dengan disiplin akademik tinggi dan bahasa yang terukur, buku ini sangat relevan bagi mahasiswa filsafat, dosen, peneliti, dan siapa pun yang ingin memahami cara kerja argumen transendental dalam dunia berpikir modern.
Ia tidak hanya membuka ruang bagi refleksi teoretis, tetapi juga menjadi kontribusi penting bagi khazanah filsafat Indonesia yang sedang membangun dialog global.























