Dalam dunia yang menuntut setiap fakta dikonfirmasi, ada satu wilayah yang tak pernah bisa diarsip atau dipertanggungjawabkan: hati. Oni, seorang jurnalis investigasi di sebuah ruang redaksi yang bising, adalah arsitek kebenaran yang setiap harinya bergulat dengan deadline, intrik politik anggaran, dan labirin informasi. Namun, di balik tumpukan kertas dan bau kopi dingin, ia justru menghadapi labirin yang lebih rumit-labirin emosi, janji-janji yang mengkhianati, dan bisikan asmara yang mengancam menenggelamkan.
Saat jarinya menari di atas tuts keyboard untuk berita anggaran yang membosankan, ponselnya terus bergetar dengan panggilan dari "Jangan Diangkat"-sosok dari masa lalu yang tak kunjung pergi. Di sisi lain, ada Wulan, rekan kerjanya yang menenangkan, dan bayangan Mariana, yang pernah mengisi kekosongan hatinya. Maya, rekan kerjanya dari desk ekonomi, dan Mariana yang lain. Oni adalah wartawan investigasi yang tahu cara mencari kebenaran-selama kebenaran itu ada dalam dokumen pengadaan, laporan anggaran, atau kesaksian sumber anonim yang berbicara di bawah cahaya neon warung kopi.
Tapi ada tiga nama di buku catatannya yang tidak pernah bisa ia konfirmasi:Mariana. Pelabuhan yang tenang. LSM advokasi kebijakan publik yang bicara dengan presisi seperti kalimat berita yang sudah direvisi berkali-kali. Seseorang yang sabar bukan karena pasrah, tapi karena memilih. Maya. Rekan sesama jurnalis dari desk ekonomi. Cara kerjanya sama dengan cara Oni melihat dunia-dalam angka, inkonsistensi, dan dokumen yang tidak mau diam.
Kedekatan yang lahir dari investigasi bersama memiliki bobotnya sendiri. Wulan. Yang paling mudah diabaikan. Yang kopinya selalu mengepul di pojok meja setiap pagi. Yang kehadirannya tidak pernah meminta apa-apa, dan justru karena itu paling bertahan."Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati" adalah sebuah fiksi semi-memoar yang jujur, menyajikan pergulatan seorang pria yang mencari kebenaran di luar dan kejelasan di dalam dirinya.
Ini adalah potret pahit manis tentang jurnalisme, cinta yang kompleks, dan pertanyaan abadi: bagaimana kita bisa mengonfirmasi apa yang tak terlihat?Donny Turang mengajak Anda menelusuri lorong-lorong hati yang tak terpetakan, di mana kelelahan jurnalis bertemu dengan keraguan asmara. Melalui narasi yang tajam dan reflektif, Anda akan menemukan bahwa setiap profesi punya puisinya sendiri-dan setiap hati punya jejaknya yang tak pernah benar-benar hilang.
Jika Anda merindukan kisah yang menyentuh tentang pencarian makna di tengah rutinitas, kejujuran yang pahit, dan keindahan dalam ketidakpastian, "Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati" adalah bacaan yang akan terus berbisik di benak Anda lama setelah halaman terakhir dibaca. Untuk pembaca yang mencari karya, "Donny Turang", atau novel berjudul "Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati", buku ini menawarkan kisah mendalam tentang 'jurnalisme' dan pahit manisnya 'kehidupan redaksi'.
Jelajahi 'pencarian kebenaran' di tengah 'dilema asmara' seorang reporter, dalam format 'semi-memoar fiksi' yang sarat 'refleksi diri'. Sebuah 'sastra Indonesia' yang menyoroti 'hubungan kompleks' dan pertanyaan abadi tentang hati yang tak bisa dikonfirmasi.
Dalam dunia yang menuntut setiap fakta dikonfirmasi, ada satu wilayah yang tak pernah bisa diarsip atau dipertanggungjawabkan: hati. Oni, seorang jurnalis investigasi di sebuah ruang redaksi yang bising, adalah arsitek kebenaran yang setiap harinya bergulat dengan deadline, intrik politik anggaran, dan labirin informasi. Namun, di balik tumpukan kertas dan bau kopi dingin, ia justru menghadapi labirin yang lebih rumit-labirin emosi, janji-janji yang mengkhianati, dan bisikan asmara yang mengancam menenggelamkan.
Saat jarinya menari di atas tuts keyboard untuk berita anggaran yang membosankan, ponselnya terus bergetar dengan panggilan dari "Jangan Diangkat"-sosok dari masa lalu yang tak kunjung pergi. Di sisi lain, ada Wulan, rekan kerjanya yang menenangkan, dan bayangan Mariana, yang pernah mengisi kekosongan hatinya. Maya, rekan kerjanya dari desk ekonomi, dan Mariana yang lain. Oni adalah wartawan investigasi yang tahu cara mencari kebenaran-selama kebenaran itu ada dalam dokumen pengadaan, laporan anggaran, atau kesaksian sumber anonim yang berbicara di bawah cahaya neon warung kopi.
Tapi ada tiga nama di buku catatannya yang tidak pernah bisa ia konfirmasi:Mariana. Pelabuhan yang tenang. LSM advokasi kebijakan publik yang bicara dengan presisi seperti kalimat berita yang sudah direvisi berkali-kali. Seseorang yang sabar bukan karena pasrah, tapi karena memilih. Maya. Rekan sesama jurnalis dari desk ekonomi. Cara kerjanya sama dengan cara Oni melihat dunia-dalam angka, inkonsistensi, dan dokumen yang tidak mau diam.
Kedekatan yang lahir dari investigasi bersama memiliki bobotnya sendiri. Wulan. Yang paling mudah diabaikan. Yang kopinya selalu mengepul di pojok meja setiap pagi. Yang kehadirannya tidak pernah meminta apa-apa, dan justru karena itu paling bertahan."Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati" adalah sebuah fiksi semi-memoar yang jujur, menyajikan pergulatan seorang pria yang mencari kebenaran di luar dan kejelasan di dalam dirinya.
Ini adalah potret pahit manis tentang jurnalisme, cinta yang kompleks, dan pertanyaan abadi: bagaimana kita bisa mengonfirmasi apa yang tak terlihat?Donny Turang mengajak Anda menelusuri lorong-lorong hati yang tak terpetakan, di mana kelelahan jurnalis bertemu dengan keraguan asmara. Melalui narasi yang tajam dan reflektif, Anda akan menemukan bahwa setiap profesi punya puisinya sendiri-dan setiap hati punya jejaknya yang tak pernah benar-benar hilang.
Jika Anda merindukan kisah yang menyentuh tentang pencarian makna di tengah rutinitas, kejujuran yang pahit, dan keindahan dalam ketidakpastian, "Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati" adalah bacaan yang akan terus berbisik di benak Anda lama setelah halaman terakhir dibaca. Untuk pembaca yang mencari karya, "Donny Turang", atau novel berjudul "Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati", buku ini menawarkan kisah mendalam tentang 'jurnalisme' dan pahit manisnya 'kehidupan redaksi'.
Jelajahi 'pencarian kebenaran' di tengah 'dilema asmara' seorang reporter, dalam format 'semi-memoar fiksi' yang sarat 'refleksi diri'. Sebuah 'sastra Indonesia' yang menyoroti 'hubungan kompleks' dan pertanyaan abadi tentang hati yang tak bisa dikonfirmasi.