Gui Xueming, pendekar pedang yang dijuluki Naga Bisu, tiba di Kota Fengsha dalam kondisi paling rentan dalam hidupnya. Luka dalam yang melumpuhkan tenaga saktinya, di sebuah kota yang dikuasai dua perkumpulan hitam yang sama-sama berbahaya. Tanpa tenaga dalam, ia hanya punya satu senjata yang tersisa: kemampuan membaca situasi dan menggerakkan orang-orang di dalamnya seperti pemain catur yang tahu bahwa papan bisa dibalik bahkan oleh tangan yang sedang terluka. Di antara intrik, pengkhianatan, dan rahasia yang sudah tiga setengah tahun menunggu untuk dibongkar, ia menemukan bahwa pertarungan paling menentukan bukan yang dimenangkan dengan pedang, melainkan yang dimenangkan sebelum pedang sempat dicabut. Dan bahwa di kota yang sudah terlama hidup dalam ketakutan, ada hal-hal yang ternyata lebih sulit ditinggalkan dari luka yang paling dalam sekalipun.
Gui Xueming, pendekar pedang yang dijuluki Naga Bisu, tiba di Kota Fengsha dalam kondisi paling rentan dalam hidupnya. Luka dalam yang melumpuhkan tenaga saktinya, di sebuah kota yang dikuasai dua perkumpulan hitam yang sama-sama berbahaya. Tanpa tenaga dalam, ia hanya punya satu senjata yang tersisa: kemampuan membaca situasi dan menggerakkan orang-orang di dalamnya seperti pemain catur yang tahu bahwa papan bisa dibalik bahkan oleh tangan yang sedang terluka. Di antara intrik, pengkhianatan, dan rahasia yang sudah tiga setengah tahun menunggu untuk dibongkar, ia menemukan bahwa pertarungan paling menentukan bukan yang dimenangkan dengan pedang, melainkan yang dimenangkan sebelum pedang sempat dicabut. Dan bahwa di kota yang sudah terlama hidup dalam ketakutan, ada hal-hal yang ternyata lebih sulit ditinggalkan dari luka yang paling dalam sekalipun.