Tahun 1579 Masehi, takhta dan kejayaan Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh dalam semalam di bawah gempuran pasukan Kesultanan Banten. Di tengah lautan api dan pertumpahan darah di Kota Pakuan, Jayasangkala-seorang prajurit Gurandil berumur sembilan belas musim-berlutut di depan Prasasti Batu Tulis. Di bawah bayangan takdir yang kelam, ia mengikrarkan sumpah darah: Pajajaran boleh runtuh, tetapi memori, ajaran, dan kebudayaannya tidak boleh mati.
Berbekal Kujang Ciung, bumbung bambu berisi naskah-naskah kuno, dan rasa duka mendalam atas gugurnya para ksatria, Jayasangkala memulai pengembaraan panjang yang berbahaya ke arah timur sebagai "Ki Ambu"-seorang penyintas yang menyamar sebagai pertapa. Dari kehangatan dialek Sunda purba di perbatasan Salem dan Bantarkawung, penegasan pilar politik Galuh di Prasasti Cipasang Cilacap, hingga persaudaraan spiritual Trah Sanjaya di Candi Bumijawa lereng Gunung Slamet, Jayasangkala menyaksikan bahwa identitas sebuah bangsa tidak mudah dihapus hanya dengan merobohkan benteng istana.
Namun, ujian terberat menunggunya di belantara paling timur Pulau Jawa: Alas Purwo. Di dalam rimba mistis yang mencekam, demam tinggi dan teror trauma masa lalu (PTSD) ny Hampir menghancurkan akal sehatnya. Dalam titik tergelap antara hidup dan mati, kehangatan Cincin Perak beraksara Pra-Nagari-tanda cinta dan ikatan suci dari Roro Dyah Kiranawati di pelataran Candi Prambanan-menjadi penawar mistik yang menyelamatkan jiwanya dari kegilaan.
Sementara Jayasangkala menyeberangi Selat Bali menuju Sengkidu untuk membangun peradaban baru bersama naskah-naskah yang diselamatkannya, di lereng Gunung Salak yang sepi, Kiranawati bertaruh nyawa membesarkan putra mereka, Rakai Sangkala Wijaya. Tanpa dendam dan dalam kesederhanaan tradisi Sunda Wiwitan, Kiranawati menjadi benteng batiniah yang merawat benih darah Pasundan agar tidak benar-benar punah.
Sebuah kisah epik tentang survival, cinta melintasi takdir, teologi Pralaya, dan perjuangan dua jiwa yang terpisah samudra demi memelihara identitas Nusantara.
Tahun 1579 Masehi, takhta dan kejayaan Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh dalam semalam di bawah gempuran pasukan Kesultanan Banten. Di tengah lautan api dan pertumpahan darah di Kota Pakuan, Jayasangkala-seorang prajurit Gurandil berumur sembilan belas musim-berlutut di depan Prasasti Batu Tulis. Di bawah bayangan takdir yang kelam, ia mengikrarkan sumpah darah: Pajajaran boleh runtuh, tetapi memori, ajaran, dan kebudayaannya tidak boleh mati.
Berbekal Kujang Ciung, bumbung bambu berisi naskah-naskah kuno, dan rasa duka mendalam atas gugurnya para ksatria, Jayasangkala memulai pengembaraan panjang yang berbahaya ke arah timur sebagai "Ki Ambu"-seorang penyintas yang menyamar sebagai pertapa. Dari kehangatan dialek Sunda purba di perbatasan Salem dan Bantarkawung, penegasan pilar politik Galuh di Prasasti Cipasang Cilacap, hingga persaudaraan spiritual Trah Sanjaya di Candi Bumijawa lereng Gunung Slamet, Jayasangkala menyaksikan bahwa identitas sebuah bangsa tidak mudah dihapus hanya dengan merobohkan benteng istana.
Namun, ujian terberat menunggunya di belantara paling timur Pulau Jawa: Alas Purwo. Di dalam rimba mistis yang mencekam, demam tinggi dan teror trauma masa lalu (PTSD) ny Hampir menghancurkan akal sehatnya. Dalam titik tergelap antara hidup dan mati, kehangatan Cincin Perak beraksara Pra-Nagari-tanda cinta dan ikatan suci dari Roro Dyah Kiranawati di pelataran Candi Prambanan-menjadi penawar mistik yang menyelamatkan jiwanya dari kegilaan.
Sementara Jayasangkala menyeberangi Selat Bali menuju Sengkidu untuk membangun peradaban baru bersama naskah-naskah yang diselamatkannya, di lereng Gunung Salak yang sepi, Kiranawati bertaruh nyawa membesarkan putra mereka, Rakai Sangkala Wijaya. Tanpa dendam dan dalam kesederhanaan tradisi Sunda Wiwitan, Kiranawati menjadi benteng batiniah yang merawat benih darah Pasundan agar tidak benar-benar punah.
Sebuah kisah epik tentang survival, cinta melintasi takdir, teologi Pralaya, dan perjuangan dua jiwa yang terpisah samudra demi memelihara identitas Nusantara.