OFFRE LISEUSES
Une liseuse achetée = une housse offerte* jusqu'au 21 juin
- Accueil /
- Bredevoort van den Berg
Bredevoort van den Berg

Dernière sortie
Lembah Angsa
LEMBAH ANGSA - CERITA HOROR DALAM BAHASA INDONESIA - BREDEVOORT VAN DEN BERGDi jantung rimba liar Nieuw-Nederland, tempat peradaban Eropa baru saja menjejakkan kaki, mengendap sebuah rahasia yang jauh lebih tua dan lebih sabar daripada pohon-pohon pinus yang menjulang. "Lembah Angsa" mengisahkan pos koloni Belanda terpencil di Moederkil yang lenyap tanpa suara, hanya meninggalkan arang hitam, deretan tulang-belulang yang bersih tersayat, dan sekeping koin Romawi kuno yang dingin menyala di tangan.
Ketika para penyintas dan pendatang baru mencoba membangun kembali benteng di atas tanah yang menolak dilupakan, mereka segera sadar bahwa ancaman sesungguhnya bukan datang dari suku-suku yang mengintai dari balik kabut, melainkan dari kekuatan purba yang napasnya berdesir di sela-sela rimba, sesuatu yang meminum sejarah, mengingat darah, dan menunggu untuk diberi nama. Cerita horor gotik ini merajut realisme sejarah yang kukuh dengan teror supernatural yang mencekik.
Riset kolonial abad ketujuh belas mengenai konflik antara Belanda, Swedia, dan Inggris di pesisir timur Amerika menjadi fondasi bagi ketegangan yang tumbuh perlahan, mengaburkan batas antara drama eksistensial, thriller psikologis, dan kengerian kosmik yang tak bisa dinegosiasikan. "Pada bulan Maret, ketika matahari mulai benar-benar menghangat untuk pertama kalinya, logam itu bernyanyi. Bukan sinar hidup dari emas atau kilau dari ketel yang digosok mengilap.
Itu adalah sinar mati kelabu dari timah hitam dan timah putih, dituang menjadi sebuah gambar selebar bahu raksasa, pada sebuah tiang yang menjulang lebih tinggi daripada jagung yang paling masak. Pada lempengan itu, dalam relief tinggi, terpampang lambang Perusahaan Hindia Barat: dua kapal yang megah, dikelilingi huruf-huruf yang meliuk dan sebuah mahkota. Sebuah kapal dagang dan sebuah kapal perang. Bagi Tamanend, putra sulung kepala suku Siconesse, itu adalah sesuatu yang sama sekali lain.
Ia telah mengamati tiang itu selama seminggu. Ia telah melihat matahari tengah hari memanaskannya, melihat hujan membasahinya. Dengan mata elangnya yang tajam, ia mengamati tepi logam padat itu, tempat ia mencuat dari kayu. Ia menunggu sampai Hosset dan anak buahnya berangkat menuju ladang selatan dengan sekop di bahu untuk mencakar tanah bagi satu musim lagi panen yang gagal. Ketika benteng sunyi, kecuali dua penjaga di pintu gerbang besar, Tamanend mendekat.
Ia tidak bersembunyi; ia berjalan terus, wajahnya tanpa ekspresi. Di tangannya tergenggam kapak perangnya, kepala dari batu tajam. Ia menatap lempengan itu, menatap tiang itu. Ia menyelipkan kapaknya di belakang logam, menekannya ke kayu. Satu tarikan kuat, erangan paku yang melepaskan, dan seluruh lambang itu jatuh ke dalam pelukannya. Lebih berat dari yang ia duga. Ia membawa kesejukan, beratnya peradaban, dalam dekapannya.
Lalu ia berbalik dan berjalan, dengan lempengan itu ditekan ke dadanya, menjauh dari tiang, menjauh dari benteng, menuju semak belukar lebat di mana orang-orangnya menunggu. Saat itulah jeritannya menyobek langit. Hosset dipanggil kembali, wajahnya bagaikan cermin ketidakpercayaan yang berubah menjadi amarah mendidih. Ia berdiri di depan tiang yang telanjang itu, kedua tangannya terkulai lemas di sisi tubuh.
Pagi berikutnya ada gerakan di tepi hutan. Kepala suku Siconesse, paman Tamanend, melangkah maju, wajahnya seperti bentang alam berparut, tegar dan penuh wibawa. Di belakangnya berdiri dua prajurit. Dan di depan mereka, di atas tanah dingin, mereka telah meletakkan sesuatu. Itu bukan lempengan logam, melainkan kepala Tamanend yang terpenggal. Mata setengah terbuka, mulut membisu selamanya. Sayatan di leher tajam dan bersih.
Hanya sedikit darah. Itu adalah persembahan. Sebuah pengakuan."
Ketika para penyintas dan pendatang baru mencoba membangun kembali benteng di atas tanah yang menolak dilupakan, mereka segera sadar bahwa ancaman sesungguhnya bukan datang dari suku-suku yang mengintai dari balik kabut, melainkan dari kekuatan purba yang napasnya berdesir di sela-sela rimba, sesuatu yang meminum sejarah, mengingat darah, dan menunggu untuk diberi nama. Cerita horor gotik ini merajut realisme sejarah yang kukuh dengan teror supernatural yang mencekik.
Riset kolonial abad ketujuh belas mengenai konflik antara Belanda, Swedia, dan Inggris di pesisir timur Amerika menjadi fondasi bagi ketegangan yang tumbuh perlahan, mengaburkan batas antara drama eksistensial, thriller psikologis, dan kengerian kosmik yang tak bisa dinegosiasikan. "Pada bulan Maret, ketika matahari mulai benar-benar menghangat untuk pertama kalinya, logam itu bernyanyi. Bukan sinar hidup dari emas atau kilau dari ketel yang digosok mengilap.
Itu adalah sinar mati kelabu dari timah hitam dan timah putih, dituang menjadi sebuah gambar selebar bahu raksasa, pada sebuah tiang yang menjulang lebih tinggi daripada jagung yang paling masak. Pada lempengan itu, dalam relief tinggi, terpampang lambang Perusahaan Hindia Barat: dua kapal yang megah, dikelilingi huruf-huruf yang meliuk dan sebuah mahkota. Sebuah kapal dagang dan sebuah kapal perang. Bagi Tamanend, putra sulung kepala suku Siconesse, itu adalah sesuatu yang sama sekali lain.
Ia telah mengamati tiang itu selama seminggu. Ia telah melihat matahari tengah hari memanaskannya, melihat hujan membasahinya. Dengan mata elangnya yang tajam, ia mengamati tepi logam padat itu, tempat ia mencuat dari kayu. Ia menunggu sampai Hosset dan anak buahnya berangkat menuju ladang selatan dengan sekop di bahu untuk mencakar tanah bagi satu musim lagi panen yang gagal. Ketika benteng sunyi, kecuali dua penjaga di pintu gerbang besar, Tamanend mendekat.
Ia tidak bersembunyi; ia berjalan terus, wajahnya tanpa ekspresi. Di tangannya tergenggam kapak perangnya, kepala dari batu tajam. Ia menatap lempengan itu, menatap tiang itu. Ia menyelipkan kapaknya di belakang logam, menekannya ke kayu. Satu tarikan kuat, erangan paku yang melepaskan, dan seluruh lambang itu jatuh ke dalam pelukannya. Lebih berat dari yang ia duga. Ia membawa kesejukan, beratnya peradaban, dalam dekapannya.
Lalu ia berbalik dan berjalan, dengan lempengan itu ditekan ke dadanya, menjauh dari tiang, menjauh dari benteng, menuju semak belukar lebat di mana orang-orangnya menunggu. Saat itulah jeritannya menyobek langit. Hosset dipanggil kembali, wajahnya bagaikan cermin ketidakpercayaan yang berubah menjadi amarah mendidih. Ia berdiri di depan tiang yang telanjang itu, kedua tangannya terkulai lemas di sisi tubuh.
Pagi berikutnya ada gerakan di tepi hutan. Kepala suku Siconesse, paman Tamanend, melangkah maju, wajahnya seperti bentang alam berparut, tegar dan penuh wibawa. Di belakangnya berdiri dua prajurit. Dan di depan mereka, di atas tanah dingin, mereka telah meletakkan sesuatu. Itu bukan lempengan logam, melainkan kepala Tamanend yang terpenggal. Mata setengah terbuka, mulut membisu selamanya. Sayatan di leher tajam dan bersih.
Hanya sedikit darah. Itu adalah persembahan. Sebuah pengakuan."
LEMBAH ANGSA - CERITA HOROR DALAM BAHASA INDONESIA - BREDEVOORT VAN DEN BERGDi jantung rimba liar Nieuw-Nederland, tempat peradaban Eropa baru saja menjejakkan kaki, mengendap sebuah rahasia yang jauh lebih tua dan lebih sabar daripada pohon-pohon pinus yang menjulang. "Lembah Angsa" mengisahkan pos koloni Belanda terpencil di Moederkil yang lenyap tanpa suara, hanya meninggalkan arang hitam, deretan tulang-belulang yang bersih tersayat, dan sekeping koin Romawi kuno yang dingin menyala di tangan.
Ketika para penyintas dan pendatang baru mencoba membangun kembali benteng di atas tanah yang menolak dilupakan, mereka segera sadar bahwa ancaman sesungguhnya bukan datang dari suku-suku yang mengintai dari balik kabut, melainkan dari kekuatan purba yang napasnya berdesir di sela-sela rimba, sesuatu yang meminum sejarah, mengingat darah, dan menunggu untuk diberi nama. Cerita horor gotik ini merajut realisme sejarah yang kukuh dengan teror supernatural yang mencekik.
Riset kolonial abad ketujuh belas mengenai konflik antara Belanda, Swedia, dan Inggris di pesisir timur Amerika menjadi fondasi bagi ketegangan yang tumbuh perlahan, mengaburkan batas antara drama eksistensial, thriller psikologis, dan kengerian kosmik yang tak bisa dinegosiasikan. "Pada bulan Maret, ketika matahari mulai benar-benar menghangat untuk pertama kalinya, logam itu bernyanyi. Bukan sinar hidup dari emas atau kilau dari ketel yang digosok mengilap.
Itu adalah sinar mati kelabu dari timah hitam dan timah putih, dituang menjadi sebuah gambar selebar bahu raksasa, pada sebuah tiang yang menjulang lebih tinggi daripada jagung yang paling masak. Pada lempengan itu, dalam relief tinggi, terpampang lambang Perusahaan Hindia Barat: dua kapal yang megah, dikelilingi huruf-huruf yang meliuk dan sebuah mahkota. Sebuah kapal dagang dan sebuah kapal perang. Bagi Tamanend, putra sulung kepala suku Siconesse, itu adalah sesuatu yang sama sekali lain.
Ia telah mengamati tiang itu selama seminggu. Ia telah melihat matahari tengah hari memanaskannya, melihat hujan membasahinya. Dengan mata elangnya yang tajam, ia mengamati tepi logam padat itu, tempat ia mencuat dari kayu. Ia menunggu sampai Hosset dan anak buahnya berangkat menuju ladang selatan dengan sekop di bahu untuk mencakar tanah bagi satu musim lagi panen yang gagal. Ketika benteng sunyi, kecuali dua penjaga di pintu gerbang besar, Tamanend mendekat.
Ia tidak bersembunyi; ia berjalan terus, wajahnya tanpa ekspresi. Di tangannya tergenggam kapak perangnya, kepala dari batu tajam. Ia menatap lempengan itu, menatap tiang itu. Ia menyelipkan kapaknya di belakang logam, menekannya ke kayu. Satu tarikan kuat, erangan paku yang melepaskan, dan seluruh lambang itu jatuh ke dalam pelukannya. Lebih berat dari yang ia duga. Ia membawa kesejukan, beratnya peradaban, dalam dekapannya.
Lalu ia berbalik dan berjalan, dengan lempengan itu ditekan ke dadanya, menjauh dari tiang, menjauh dari benteng, menuju semak belukar lebat di mana orang-orangnya menunggu. Saat itulah jeritannya menyobek langit. Hosset dipanggil kembali, wajahnya bagaikan cermin ketidakpercayaan yang berubah menjadi amarah mendidih. Ia berdiri di depan tiang yang telanjang itu, kedua tangannya terkulai lemas di sisi tubuh.
Pagi berikutnya ada gerakan di tepi hutan. Kepala suku Siconesse, paman Tamanend, melangkah maju, wajahnya seperti bentang alam berparut, tegar dan penuh wibawa. Di belakangnya berdiri dua prajurit. Dan di depan mereka, di atas tanah dingin, mereka telah meletakkan sesuatu. Itu bukan lempengan logam, melainkan kepala Tamanend yang terpenggal. Mata setengah terbuka, mulut membisu selamanya. Sayatan di leher tajam dan bersih.
Hanya sedikit darah. Itu adalah persembahan. Sebuah pengakuan."
Ketika para penyintas dan pendatang baru mencoba membangun kembali benteng di atas tanah yang menolak dilupakan, mereka segera sadar bahwa ancaman sesungguhnya bukan datang dari suku-suku yang mengintai dari balik kabut, melainkan dari kekuatan purba yang napasnya berdesir di sela-sela rimba, sesuatu yang meminum sejarah, mengingat darah, dan menunggu untuk diberi nama. Cerita horor gotik ini merajut realisme sejarah yang kukuh dengan teror supernatural yang mencekik.
Riset kolonial abad ketujuh belas mengenai konflik antara Belanda, Swedia, dan Inggris di pesisir timur Amerika menjadi fondasi bagi ketegangan yang tumbuh perlahan, mengaburkan batas antara drama eksistensial, thriller psikologis, dan kengerian kosmik yang tak bisa dinegosiasikan. "Pada bulan Maret, ketika matahari mulai benar-benar menghangat untuk pertama kalinya, logam itu bernyanyi. Bukan sinar hidup dari emas atau kilau dari ketel yang digosok mengilap.
Itu adalah sinar mati kelabu dari timah hitam dan timah putih, dituang menjadi sebuah gambar selebar bahu raksasa, pada sebuah tiang yang menjulang lebih tinggi daripada jagung yang paling masak. Pada lempengan itu, dalam relief tinggi, terpampang lambang Perusahaan Hindia Barat: dua kapal yang megah, dikelilingi huruf-huruf yang meliuk dan sebuah mahkota. Sebuah kapal dagang dan sebuah kapal perang. Bagi Tamanend, putra sulung kepala suku Siconesse, itu adalah sesuatu yang sama sekali lain.
Ia telah mengamati tiang itu selama seminggu. Ia telah melihat matahari tengah hari memanaskannya, melihat hujan membasahinya. Dengan mata elangnya yang tajam, ia mengamati tepi logam padat itu, tempat ia mencuat dari kayu. Ia menunggu sampai Hosset dan anak buahnya berangkat menuju ladang selatan dengan sekop di bahu untuk mencakar tanah bagi satu musim lagi panen yang gagal. Ketika benteng sunyi, kecuali dua penjaga di pintu gerbang besar, Tamanend mendekat.
Ia tidak bersembunyi; ia berjalan terus, wajahnya tanpa ekspresi. Di tangannya tergenggam kapak perangnya, kepala dari batu tajam. Ia menatap lempengan itu, menatap tiang itu. Ia menyelipkan kapaknya di belakang logam, menekannya ke kayu. Satu tarikan kuat, erangan paku yang melepaskan, dan seluruh lambang itu jatuh ke dalam pelukannya. Lebih berat dari yang ia duga. Ia membawa kesejukan, beratnya peradaban, dalam dekapannya.
Lalu ia berbalik dan berjalan, dengan lempengan itu ditekan ke dadanya, menjauh dari tiang, menjauh dari benteng, menuju semak belukar lebat di mana orang-orangnya menunggu. Saat itulah jeritannya menyobek langit. Hosset dipanggil kembali, wajahnya bagaikan cermin ketidakpercayaan yang berubah menjadi amarah mendidih. Ia berdiri di depan tiang yang telanjang itu, kedua tangannya terkulai lemas di sisi tubuh.
Pagi berikutnya ada gerakan di tepi hutan. Kepala suku Siconesse, paman Tamanend, melangkah maju, wajahnya seperti bentang alam berparut, tegar dan penuh wibawa. Di belakangnya berdiri dua prajurit. Dan di depan mereka, di atas tanah dingin, mereka telah meletakkan sesuatu. Itu bukan lempengan logam, melainkan kepala Tamanend yang terpenggal. Mata setengah terbuka, mulut membisu selamanya. Sayatan di leher tajam dan bersih.
Hanya sedikit darah. Itu adalah persembahan. Sebuah pengakuan."
Les livres de Bredevoort van den Berg

1,49 €

Das Letzte Auge. HORRORGESCHICHTEN AUF DEUTSCH - BREDEVOORT VAN DEN BERG, #2
Bredevoort van den Berg
E-book
2,99 €

1,49 €

1,49 €

1,49 €

2,99 €

1,49 €

1,49 €

1,49 €

1,49 €

1,49 €

HET LAATSTE OOG. HORRORVERHALEN IN HET NEDERLANDS - BREDEVOORT VAN DEN BERG, #2
Bredevoort van den Berg
E-book
2,99 €

Det Sista Ögat. SKRÄCKHISTORIER PÅ SVENSKA - BREDEVOORT VAN DEN BERG, #2
Bredevoort van den Berg
E-book
2,99 €

Die Laaste Oog. GRUWELVERHALE IN AFRIKAANS - BREDEVOORT VAN DEN BERG, #2
Bredevoort van den Berg
E-book
2,99 €
