SOLDES
Jusqu'à -70% sur une sélection d'articles*
Aku Sedang Belajar Memahami Diriku, Bukan Melawannya
Par :Formats :
Disponible dans votre compte client Decitre ou Furet du Nord dès validation de votre commande. Le format ePub est :
- Compatible avec une lecture sur My Vivlio (smartphone, tablette, ordinateur)
- Compatible avec une lecture sur liseuses Vivlio
- Pour les liseuses autres que Vivlio, vous devez utiliser le logiciel Adobe Digital Edition. Non compatible avec la lecture sur les liseuses Kindle, Remarkable et Sony
, qui est-ce ?Notre partenaire de plateforme de lecture numérique où vous retrouverez l'ensemble de vos ebooks gratuitement
Pour en savoir plus sur nos ebooks, consultez notre aide en ligne ici
- FormatePub
- ISBN8230937944
- EAN9798230937944
- Date de parution06/08/2025
- Protection num.pas de protection
- Infos supplémentairesepub
- ÉditeurIndependently Published
Résumé
"Aku Sedang Belajar Memahami Diriku, Bukan Melawannya" adalah kumpulan surat personal yang ditulis dari satu versi diri ke versi diri lainnya-dari masa lalu yang rapuh ke masa depan yang (semoga) lebih tenang. Buku ini bukan panduan sukses, bukan juga kisah penuh motivasi instan. Ini adalah lembar demi lembar kejujuran-tentang kelelahan yang tak terlihat, suara hati yang lama diabaikan, dan keinginan untuk pulang ke diri sendiri tanpa harus sempurna terlebih dulu.
Melalui sepuluh surat yang ditulis dengan jujur, rapuh, dan penuh harapan, penulis mengajak pembaca untuk ikut berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengenali luka-luka yang tak pernah diberi ruang. Untuk belajar menjadi teman bagi diri sendiri. Untuk memeluk kegagalan, merangkul kebingungan, dan memberi izin pada diri untuk tidak apa-apa. Ditulis dengan nada reflektif dan hangat, buku ini cocok dibaca oleh siapa pun yang sedang merasa tidak cukup, sedang tersesat, atau hanya ingin tahu bagaimana rasanya dimengerti-tanpa tuntutan untuk menjadi apa pun selain diri sendiri.
Buku ini tidak akan menyelesaikan semuanya. Tapi mungkin... bisa menemani.
Melalui sepuluh surat yang ditulis dengan jujur, rapuh, dan penuh harapan, penulis mengajak pembaca untuk ikut berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengenali luka-luka yang tak pernah diberi ruang. Untuk belajar menjadi teman bagi diri sendiri. Untuk memeluk kegagalan, merangkul kebingungan, dan memberi izin pada diri untuk tidak apa-apa. Ditulis dengan nada reflektif dan hangat, buku ini cocok dibaca oleh siapa pun yang sedang merasa tidak cukup, sedang tersesat, atau hanya ingin tahu bagaimana rasanya dimengerti-tanpa tuntutan untuk menjadi apa pun selain diri sendiri.
Buku ini tidak akan menyelesaikan semuanya. Tapi mungkin... bisa menemani.













