Suami, Ayah, dan Laki-Laki yang Gagal- Tentang Tanggung Jawab yang Tidak Pernah Diajarkan, Tapi Selalu DituntutIni Bukan Buku Motivasi. Dan memang tidak berniat jadi itu. Tidak ada kalimat penyemangat. Tidak ada janji hidup berubah dalam 30 hari. Tidak ada trik komunikasi, afirmasi, atau formula bahagia. Buku ini ditulis untuk satu jenis pembaca saja:laki-laki dewasa yang hidupnya terlihat baik-baik saja, tapi tahu ada yang salah. Kalau Hidupmu Hancur, Buku Ini Bukan untukmu.
Tapi kalau hidupmu rapi, ini mungkin terlalu dekat. Kamu bekerja. Menjalankan peran. Bertanggung jawab secara formal. Tidak ada krisis besar yang bisa dijadikan alasan. Namun di balik rutinitas itu, ada jarak. Di rumah, di relasi, dan di dalam diri sendiri. Buku ini tidak membahas kegagalan yang spektakuler. Ia membongkar kegagalan yang dianggap normal. Apa yang Dibahas di Buku Ini?Bukan teori. Bukan nasihat dari atas.
Buku ini berisi pengakuan jujur tentang: Menjadi suami yang hadir secara fisik, tapi absen secara emosional Menjadi ayah yang memberi nafkah, tapi jarang memberi diri Menyelesaikan masalah dengan marah, diam, atau lari Menggunakan lelah sebagai pembenaran Mengubah alasan menjadi tameng ego Menyadari tidak ada yang akan datang menyelamatkan kita Semua ditulis tanpa menyalahkan pasangan, anak, atau keadaan.
Karena di titik tertentu, kejujuran memang tidak nyaman. Ini Bukan Buku yang Membuatmu Merasa Lebih Baik. Justru sebaliknya. Buku ini akan membuatmu: berhenti bersembunyi di balik peran melihat kebiasaan kecil yang selama ini dibiarkan merasa tidak nyaman pada diri sendiri Dan itu disengaja. Karena kedewasaan tidak lahir dari penguatan, melainkan dari keberanian melihat diri apa adanya. Siapa yang Perlu Membaca Buku Ini?? Laki-laki dewasa? Sudah menikah atau akan menikah? Sudah punya anak atau sedang bersiap? Merasa hidup "jalan", tapi tidak sepenuhnya hadir? Lelah dengan buku motivasi yang terlalu manisSiapa yang Sebaiknya Tidak Membaca?? Yang mencari solusi cepat? Yang ingin divalidasi? Yang belum siap bertanggung jawab tanpa tepuk tangan
Suami, Ayah, dan Laki-Laki yang Gagal- Tentang Tanggung Jawab yang Tidak Pernah Diajarkan, Tapi Selalu DituntutIni Bukan Buku Motivasi. Dan memang tidak berniat jadi itu. Tidak ada kalimat penyemangat. Tidak ada janji hidup berubah dalam 30 hari. Tidak ada trik komunikasi, afirmasi, atau formula bahagia. Buku ini ditulis untuk satu jenis pembaca saja:laki-laki dewasa yang hidupnya terlihat baik-baik saja, tapi tahu ada yang salah. Kalau Hidupmu Hancur, Buku Ini Bukan untukmu.
Tapi kalau hidupmu rapi, ini mungkin terlalu dekat. Kamu bekerja. Menjalankan peran. Bertanggung jawab secara formal. Tidak ada krisis besar yang bisa dijadikan alasan. Namun di balik rutinitas itu, ada jarak. Di rumah, di relasi, dan di dalam diri sendiri. Buku ini tidak membahas kegagalan yang spektakuler. Ia membongkar kegagalan yang dianggap normal. Apa yang Dibahas di Buku Ini?Bukan teori. Bukan nasihat dari atas.
Buku ini berisi pengakuan jujur tentang: Menjadi suami yang hadir secara fisik, tapi absen secara emosional Menjadi ayah yang memberi nafkah, tapi jarang memberi diri Menyelesaikan masalah dengan marah, diam, atau lari Menggunakan lelah sebagai pembenaran Mengubah alasan menjadi tameng ego Menyadari tidak ada yang akan datang menyelamatkan kita Semua ditulis tanpa menyalahkan pasangan, anak, atau keadaan.
Karena di titik tertentu, kejujuran memang tidak nyaman. Ini Bukan Buku yang Membuatmu Merasa Lebih Baik. Justru sebaliknya. Buku ini akan membuatmu: berhenti bersembunyi di balik peran melihat kebiasaan kecil yang selama ini dibiarkan merasa tidak nyaman pada diri sendiri Dan itu disengaja. Karena kedewasaan tidak lahir dari penguatan, melainkan dari keberanian melihat diri apa adanya. Siapa yang Perlu Membaca Buku Ini?? Laki-laki dewasa? Sudah menikah atau akan menikah? Sudah punya anak atau sedang bersiap? Merasa hidup "jalan", tapi tidak sepenuhnya hadir? Lelah dengan buku motivasi yang terlalu manisSiapa yang Sebaiknya Tidak Membaca?? Yang mencari solusi cepat? Yang ingin divalidasi? Yang belum siap bertanggung jawab tanpa tepuk tangan