Revan memiliki segalanya yang terpetakan dengan sempurna. Lulus dengan predikat cumlaude, diterima di perusahaan otomotif impian, dan sebuah rencana lima tahun yang ia yakini akan membawanya ke puncak kesuksesan. Baginya, hidup adalah sebuah garis lurus yang presisi. Namun, sebuah malam mengubah garis itu selamanya. Dalam sebuah kecelakaan motor yang disebabkan oleh pengendara lain yang melarikan diri, Revan tidak hanya kehilangan motor kesayangannya, tetapi juga menderita cedera parah di tangan kanannya.
Dengan angkuh, ia berpikir, "Ini hanya memar biasa, dalam seminggu pasti sembuh." Kenyataannya, tulang di pergelangan tangannya remuk dan membutuhkan operasi pemasangan pen. Rencana lima tahunnya hancur. Karier impiannya sebagai desainer mesin tertunda. Frustrasi dan marah, Revan menyalahkan takdir. Dalam masa pemulihan yang lambat dan menyakitkan, ia bertemu Anya, gadis yang melihat dunia bukan sebagai garis lurus, tetapi sebagai kanvas penuh warna tak terduga.
Di saat yang sama, stres dan gaya hidupnya yang salah sebelum kecelakaan memicu masalah kesehatan lain: jantungnya menunjukkan gejala aritmia yang mengkhawatirkan. Sekali lagi, Revan berpikir ia bisa mengatasinya sendiri, namun tubuhnya berkata lain. Ia harus menjalani sebuah prosedur medis yang membuka matanya tentang betapa rapuhnya ia. Dari ruang operasi di mana ia sadar sepenuhnya, hingga bengkel tua Pak Tirtayasa tempat ia belajar merakit kembali motornya, Revan dipaksa untuk membenci kalimat andalannya: "Saya Pikir"."Garis Kedua" adalah perjalanan Revan menghancurkan kebodohan dalam pemikirannya sendiri, belajar bahwa rencana terbaik bukanlah yang ia tulis, melainkan yang ia jalani dengan hati terbuka.
Ini adalah kisah tentang menemukan harapan di tengah puing-puing, dan menyadari bahwa terkadang, garis hidup kedua yang tak terduga adalah jalan menuju kedamaian yang sesungguhnya.
Revan memiliki segalanya yang terpetakan dengan sempurna. Lulus dengan predikat cumlaude, diterima di perusahaan otomotif impian, dan sebuah rencana lima tahun yang ia yakini akan membawanya ke puncak kesuksesan. Baginya, hidup adalah sebuah garis lurus yang presisi. Namun, sebuah malam mengubah garis itu selamanya. Dalam sebuah kecelakaan motor yang disebabkan oleh pengendara lain yang melarikan diri, Revan tidak hanya kehilangan motor kesayangannya, tetapi juga menderita cedera parah di tangan kanannya.
Dengan angkuh, ia berpikir, "Ini hanya memar biasa, dalam seminggu pasti sembuh." Kenyataannya, tulang di pergelangan tangannya remuk dan membutuhkan operasi pemasangan pen. Rencana lima tahunnya hancur. Karier impiannya sebagai desainer mesin tertunda. Frustrasi dan marah, Revan menyalahkan takdir. Dalam masa pemulihan yang lambat dan menyakitkan, ia bertemu Anya, gadis yang melihat dunia bukan sebagai garis lurus, tetapi sebagai kanvas penuh warna tak terduga.
Di saat yang sama, stres dan gaya hidupnya yang salah sebelum kecelakaan memicu masalah kesehatan lain: jantungnya menunjukkan gejala aritmia yang mengkhawatirkan. Sekali lagi, Revan berpikir ia bisa mengatasinya sendiri, namun tubuhnya berkata lain. Ia harus menjalani sebuah prosedur medis yang membuka matanya tentang betapa rapuhnya ia. Dari ruang operasi di mana ia sadar sepenuhnya, hingga bengkel tua Pak Tirtayasa tempat ia belajar merakit kembali motornya, Revan dipaksa untuk membenci kalimat andalannya: "Saya Pikir"."Garis Kedua" adalah perjalanan Revan menghancurkan kebodohan dalam pemikirannya sendiri, belajar bahwa rencana terbaik bukanlah yang ia tulis, melainkan yang ia jalani dengan hati terbuka.
Ini adalah kisah tentang menemukan harapan di tengah puing-puing, dan menyadari bahwa terkadang, garis hidup kedua yang tak terduga adalah jalan menuju kedamaian yang sesungguhnya.